Indika Foundation

Cara YISK "Naik Kelas" untuk Menumbuhkan Perdamaian di Sekolah-Sekolah

Cara YISK "Naik Kelas" untuk Menumbuhkan Perdamaian di Sekolah-Sekolah
Cara YISK "Naik Kelas" untuk Menumbuhkan Perdamaian di Sekolah-Sekolah

Writer: Ilham Rizkia Maulana, Senior MEL Officer

Di SMK PL Tarcisius Semarang di Semarang, murid-murid kelas 11 dan 12 yang dulu duduk sebagai peserta kini berdiri di depan kelas, mengajarkan materi perdamaian kepada adik kelasnya sendiri. Bukan karena perintah guru maupun arahan Kepala Sekolah, tetapi karena inisiatif mereka sendiri untuk membagikan pembelajaran yang telah didapatkan. Para adik kelas pun menunjukkan antusiasme dalam mempelajari materi tersebut. Perubahan ini tidak hanya terjadi di SMK PL Tarcisius Semarang, tetapi juga terjadi di lima SMA/SMK lainnya di Semarang dan Surakarta. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran perdamaian mulai berkembang melampaui peserta awal program, ketika siswa tidak hanya menerima pembelajaran, tetapi juga mengambil peran untuk membagikan dan meneruskannya kepada siswa lainnya.

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Dibaliknya, ada Yayasan Insan Sekolah Kasih (YISK), sebuah organisasi yang bekerja keras untuk memberikan materi edukasi perdamaian dan toleransi kepada orang muda. Perjalanan YISK untuk mencapai titik perubahan ini cukup panjang. Mereka sempat melalui fase sulit—ketika desain programnya belum pas, materi dirasa masih terlalu berat bagi sebagian murid, jadwal kegiatan bentrok dengan kalender sekolah, dan pergantian kepemimpinan sekolah kerap membuat kolaborasi tertunda.

Tapi alih-alih menyerah, YISK justru mengubah titik tersulit mereka untuk "naik kelas".

Perjalanan Bersama Indika Foundation: Lompatan untuk Naik Kelas

YISK memutuskan untuk ikut program pengembangan kapasitas untuk organisasi—yang kini berkembang menjadi program Impact Collaboration—oleh Indika Foundation di tahun 2024. Keputusan ini menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan YISK. Program ini memberi lompatan bagi YISK untuk naik kelas, memperluas jejaring, dan memperbarui cara merancang serta mengukur dampak programnya.

Pergeseran paling mendasar terjadi pada cara YISK merancang program. Pembelajaran di program ini mendorong YISK untuk mendesain program yang berfokus pada perubahan dan mengukurnya secara tepat dan akuntabel, bukan sekadar memastikan kegiatan terlaksana. Sebagaimana diungkapkan oleh kak Hartanti,

"Saya sungguh belajar mendesain program dengan berfokus pada perubahan dan mengukur perubahan secara 'proper' dan akuntabel."

Perubahan juga terjadi pada cara YISK membangun dan mengelola kemitraan dengan sekolah. Jika sebelumnya pelaksanaan program mengikuti timeline internal YISK, kini program diintegrasikan ke dalam agenda tahunan sekolah sehingga lebih selaras dengan perencanaan dan kebutuhan mitra.

Pada aspek pendekatan pembelajaran, YISK menemukan pendekatan yang lebih efektif dalam menyampaikan materi. Melalui proses trial and error, YISK menyadari bahwa materi yang terlalu kompleks sulit dipahami oleh peserta. Oleh karena itu, mereka mulai mengadopsi metode pembelajaran yang lebih adaptif, dengan menyederhanakan materi dan menggunakan pendekatan yang lebih interaktif agar lebih sesuai dengan karakteristik murid. Hasilnya, materi dapat diterima dengan lebih baik oleh peserta, proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, serta meningkatkan keterlibatan dan partisipasi aktif murid selama kegiatan berlangsung.

Berbagai perubahan tersebut turut memperkuat hubungan YISK dengan sekolah mitra. Dengan desain program yang lebih terstruktur, perencanaan yang lebih selaras, dan metode pembelajaran yang lebih relevan, proses kolaborasi dengan sekolah menjadi lebih mulus dan berjalan dengan lebih baik.

Dampak Berkelanjutan Melalui Pondasi Kemitraan yang Kuat

Ditulis oleh Ilham M. Rizkia

Salah satu perubahan yang signifikan adalah bagaimana YISK merancang keberlanjutan programnya. Kunci utamanya adalah pemberdayaan siswa sebagai peer facilitator. Siswa-siswa yang telah dilatih diberdayakan untuk meneruskan pembelajaran kepada angkatan berikutnya.

"Muridnya diberdayakan sebagai peer facilitator. Yang lulus, mereka makin kuat dalam beberapa softskill."

Di beberapa sekolah, dampaknya bahkan lebih jauh: materi peacebuilding diintegrasikan ke dalam kegiatan kokurikuler sesuai dengan agenda sekolah, melalui kegiatan peer education yang dilakukan oleh siswa kepada teman sebaya maupun siswa SMP. Perubahan lainnya juga terlihat dari keberlanjutan peran alumni tim Peacebuilding. Beberapa anggota tim yang telah lulus SMA/SMK kini terlibat aktif sebagai volunteer YISK, dengan berperan sebagai fasilitator dan co-fasilitator dalam pelaksanaan program YISK di sekolah mitra lainnya. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa pengalaman dan kapasitas yang diperoleh selama menjadi bagian dari tim peacebuilding dapat terus dimanfaatkan dan dibagikan kepada siswa di sekolah lain.

Perubahan yang dirasakan juga ada pada cara YISK membangun dan merawat relasi. Pengalaman di lapangan mengajarkan bahwa kolaborasi yang berkelanjutan tidak bisa berdiri sendiri tanpa relasi yang kuat. YISK kini lebih memanfaatkan resources yang sudah ada di sekolah dan menyesuaikan pendekatan per sekolah.

YISK mengaplikasikan proses belajar bersama Indika Foundation dalam praktik-praktik program yang dilakukan. Kemitraan melalui program ini memberi YISK dua hal yang saling menguatkan: cara baru mendesain program yang berfokus pada perubahan berkelanjutan yang terukur dan akuntabel, dan perluasan jejaring dengan berbagai organisasi di Indonesia.

Sebagaimana disampaikan Kak Hartanti:

"Dengan bermitra dengan Indika Foundation, menjadi satu lompatan YISK untuk naik kelas sebagai organisasi. Kami mendapat kesempatan memperluas jejaring dengan berbagai organisasi di Indonesia."

Pondasi yang dibangun melalui kemitraan dengan Indika Foundation menjadi bekal bagi YISK, termasuk dalam membangun kemitraan dengan sekolah-sekolah yang terus berlanjut hingga kini.

Indika Foundation

Temukan kami juga di


Copyright © 2021 Indika Foundation. All rights reserved

Bahasa Indonesia

ID