Indika Foundation

Dari Representasi Menjadi Pemberdayaan: Perjalanan Fajar Menguatkan Komunitas Penghayat

Dari Representasi Menjadi Pemberdayaan:  Perjalanan Fajar Menguatkan Komunitas Penghayat
Dari Representasi Menjadi Pemberdayaan:  Perjalanan Fajar Menguatkan Komunitas Penghayat

Writer: Dzatin Lisani Sadida, Senior MEL Officer

Sebelum memperkenalkan dirinya ke orang lain, Fajar hampir selalu memikirkan satu hal terlebih dahulu: “Apakah ruang ini cukup aman bagiku untuk menjadi diriku sendiri?”

Pertanyaan itu sudah lama menemaninya. Bukan karena ia tidak bangga dengan identitasnya. Tetapi karena pengalaman hidup mengajarkannya bahwa tidak semua orang dapat memahami atau menerima perbedaan.

Fajar, pemuda asal Bandung Barat, merupakan seorang penghayat kepercayaan. Sejak kecil, ia telah merasakan menjadi bagian dari kelompok yang seringkali tidak dipahami oleh masyarakat luas. Pengalaman diskriminasi pernah ia temui di berbagai ruang kehidupan; mulai dari dunia pendidikan, urusan administrasi, hingga layanan pemerintahan.

Meski tidak selalu hadir dalam bentuk perlakuan terang-terangan yang kasar, pengalaman-pengalaman tersebut tetap meninggalkan jejak yang mendalam. Perlahan, Fajar terbiasa mengukur situasi sebelum berbicara tentang dirinya sendiri.

“Aku sering merasa kami tidak terlihat,” ucapnya.

Pengalaman itulah yang mendorong Fajar untuk mulai aktif di berbagai kegiatan perdamaian dan toleransi sejak 2019. Baginya, peacebuilding bukan sekadar ruang belajar tentang keberagaman, melainkan jalan untuk memperkenalkan keberadaan komunitas penghayat kepada masyarakat yang lebih luas dan membuka percakapan yang selama ini jarang terjadi.

Ia percaya bahwa diskriminasi hadir dari ketidaktahuan. Semakin banyak orang yang mengenal penghayat kepercayaan secara langsung, semakin besar peluang lahirnya pemahaman dan penerimaan.

Ketika mendapat informasi mengenai GerakDampak Academy, Fajar merasa menemukan kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

“Aku merasa ini kesempatan emas untuk memperkenalkan penghayat.” ujarnya.

Meski demikian, kebiasaan untuk berhati-hati tidak serta-merta hilang. Pada hari pertama program, Fajar lebih banyak mengamati daripada berbicara. Ia belum berani memperkenalkan identitasnya kepada peserta lain.

“Aku selalu melihat situasinya aman atau tidak.”

Di balik sikap tenangnya, tersimpan berbagai kekhawatiran. Ia takut dianggap sesat, dianggap agama baru, atau kembali menerima stigma yang selama ini membayanginya.

Ketika akhirnya ia mulai terbuka, muncul berbagai pertanyaan dari peserta lain.

“Aku baru tahu ada penghayat.”

“Apa bedanya dengan agama lain?”

“Kalau begitu, bagaimana konsep surga dan nerakanya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sempat membuatnya tidak nyaman. Namun, untuk pertama kalinya, Fajar memilih untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ia menyadari bahwa sebagian besar pertanyaan lahir bukan dari niat untuk menghakimi, melainkan karena ingin memahami.

Alih-alih menutup diri, Fajar memilih untuk bercerita.

GerakDampak Academy menjadi ruang yang membuat Fajar merasa cukup aman untuk menjelaskan siapa dirinya, apa yang ia yakini, dan bagaimana kehidupan komunitas penghayat yang sesungguhnya. Semakin sering ia berbagi cerita, semakin tumbuh pula keberaniannya untuk tampil sebagai dirinya sendiri.

Di akhir program, perubahan terbesar yang ia rasakan bukan hanya bertambahnya pengetahuan dan keterampilan. Ia menemukan sesuatu yang selama ini sulit ia miliki: keyakinan bahwa identitasnya bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan.

Semangat dan keberanian inilah yang ia bawa pulang ke komunitasnya.

Saat merancang aksi nyata, Fajar awalnya ingin memperkenalkan komunitas penghayat kepada masyarakat luas. Namun, ia menyadari bahwa terkadang perubahan perlu dimulai dari rumah sendiri.

Ia teringat pada anak-anak dan remaja penghayat yang mungkin sedang mengalami hal yang sama sepertinya dulu: bingung ketika identitas mereka dipertanyakan, tidak memiliki ruang aman untuk bercerita, dan menghadapi diskriminasi. Dari situlah arah Aksi Nyata yang ia buat berubah.

Fajar memilih mendampingi komunitas penghayat kepercayaan melalui kegiatan yang mengajak anak-anak hingga siswa SMA belajar tentang HARMONI, mengenali identitas diri, dan cara menghadapi diskriminasi. Agar proses belajar lebih mudah diikuti, ia juga mengembangkan sebuah board game bernama HARMONI sebagai media pembelajaran interaktif. Perlahan, perubahan mulai terlihat.

Peserta tingkat SMA mengaku menjadi lebih percaya diri dengan identitas yang mereka miliki. Mereka juga mulai berbagi pengalaman tentang tantangan yang mereka hadapi di sekolah, dan mencari solusi bersama.

Anak-anak pun mulai memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk memperlakukan orang lain secara berbeda. Mereka bahkan mulai menyampaikan kembali pesan anti-diskriminasi kepada teman-teman mereka di sekolah.

Salah satu momen yang paling membekas bagi Fajar datang dari seorang anak yang mulai mampu menjelaskan identitasnya sebagai penghayat kepada teman-temannya dengan percaya diri.

Momen sederhana itu mengingatkannya pada dirinya sendiri beberapa tahun lalu, saat ia masih ragu untuk melakukan hal yang sama.

Hari ini, Fajar masih memiliki mimpi yang sama: memperkenalkan komunitas penghayat kepada masyarakat yang lebih luas.

GerakDampak Academy memberinya satu pelajaran penting, bahwa perubahan tidak harus dimulai dari menjangkau sebanyak mungkin orang. Terkadang, perubahan justru tumbuh ketika satu orang menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.

Melalui langkah-langkah kecil yang ia mulai, Fajar berharap semakin banyak anak dan remaja tumbuh tanpa rasa takut untuk memperkenalkan siapa diri mereka. Sebab, perubahan bukan hanya tentang mengubah cara pandang masyarakat terhadap kelompok minoritas, tapi juga memastikan setiap orang memiliki keberanian untuk berkata, “Inilah aku.”

Indika Foundation

Temukan kami juga di


Copyright © 2021 Indika Foundation. All rights reserved

Bahasa Indonesia

ID