

Muhammad Rikal Qamara, atau yang lebih akrab disapa Rikal, adalah seorang Tuli sejak lahir. Kesibukannya saat ini adalah menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Aceh. Di sela-sela kuliah, ia juga aktif sebagai guru Tuli yang mengajarkan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) kepada teman-teman dengar serta mengedukasi masyarakat tentang Deaf Awareness.
Rikal masih ingat jelas momen ketika ia mulai memahami arti keberagaman. Lahir dan tumbuh di Aceh Besar, daerah dengan mayoritas masyarakat Muslim, ia jarang berinteraksi dengan orang dari agama lain. Keberagaman terasa seperti konsep yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
“Saya senang berinteraksi dengan teman Tuli maupun teman dengar, selama komunikasi bisa terbangun dengan baik dan tidak terhambat,” ujarnya.
Perjalanan Rikal memahami keberagaman dimulai ketika ia mengikuti program kepemudaan yang membahas isu perdamaian dan toleransi. Di sana, ia mendengar cerita dari teman-teman beragama lain yang jarang ditemui sebelumnya.
Salah satu cerita yang paling membekas baginya adalah dari salah satu peserta yang beragama Hindu. Ia bercerita bahwa saat ini umat Hindu di Aceh jumlahnya makin sedikit, bahkan hampir tidak terlihat lagi. Selain itu, ia juga mendengar kisah tentang sebuah vihara di Banda Aceh yang pernah mengalami pelemparan batu hingga kaca-kacanya pecah pada malam hari.
Cerita-cerita itu membuka perspektif baru baginya.
Rikal mulai menyadari bahwa keberagaman itu nyata, tetapi juga rapuh. Ia juga melihat bahwa kurangnya pemahaman sering kali menjadi akar dari sikap intoleransi.
“Dari situ saya semakin yakin bahwa edukasi tentang toleransi sangat penting,” katanya.
Kesadaran tersebut membawanya mendaftar ke program GerakDampak Academy. Awalnya, ia tidak mengetahui program ini sama sekali hingga seorang temannya mendorongnya untuk mencoba.
Namun ternyata perjalanan itu tidak langsung mulus.
Ketika pengumuman tahap Bootcamp keluar, Rikal dinyatakan tidak lolos. Ia membaca pengumuman tersebut larut malam setelah menyelesaikan kegiatan komunitasnya. Terdiam lama menatap layar, lalu tersenyum dan berkata pada dirinya sendiri, “Tidak apa-apa, mungkin ini belum rezeki saya.” Beberapa hari kemudian, sebuah email masuk.
Rikal terpilih sebagai peserta tambahan Bootcamp.
“Waktu melihat email itu, saya hanya bisa terdiam. Rasanya sangat terharu,” kenangnya.
Selama mengikuti program GerakDampak Academy, Rikal mempelajari konsep Good Global Citizen dan nilai-nilai Kurikulum HARMONI yang menekankan welas asih, toleransi, dan kolaborasi. Pada tahap Bootcamp, wawasannya tentang keberagaman semakin terbuka, terutama terkait pentingnya toleransi antaragama.
Setelah tahap Bootcamp, Rikal terpilih sebagai salah satu dari 30 peserta yang melanjutkan ke tahap Intensive Course. Di tahap ini, ia bertemu peserta dari berbagai latar belakang dan menyaksikan langsung praktik toleransi di Kampung Sawah, sebuah desa yang dikenal dengan kehidupan harmonis antarumat beragama.
Pengalaman itu semakin memperkuat keyakinannya bahwa perdamaian bisa tumbuh dari kehidupan sehari-hari.
Namun, bagi Rikal, satu pertanyaan besar muncul ketika ia diminta merancang Aksi Nyata sebagai rangkaian program GerakDampak Academy: isu apa yang paling dekat dengan hidupnya?
Jawabannya ternyata di depan mata.
Aksesibilitas.
Dalam Aksi Nyatanya, Rikal membuat kampanye advokasi akses informasi melalui media sosial. Ia memproduksi konten edukatif yang dilengkapi dengan subtitle, bahasa isyarat, dan visual yang jelas agar dapat diakses oleh teman-teman Tuli.
Baginya, masalah ini sangat nyata. Teramat nyata dan dekat bahkan baginya.
Banyak konten digital yang tidak menyediakan subtitle atau bahasa isyarat, sehingga teman-teman Tuli kerap kali ketinggalan informasi.
“Melalui Aksi Nyata ini, saya ingin membuka kesadaran bahwa akses informasi adalah hak, dan media sosial seharusnya menjadi ruang yang inklusif bagi semua.” ungkap Rikal
Namun, proses menjalankan Aksi Nyata ternyata tidak mudah. Hujan yang terus turun membuat beberapa rencana pengambilan video harus diubah. Pemadaman listrik juga sempat menghambat proses editing dan pengunggahan konten.
Di tengah proses tersebut, Aceh juga mengalami banjir bandang dan longsor yang berdampak pada banyak wilayah. Beberapa teman Tuli bahkan menjadi korban bencana. Rikal dan timnya sempat berhenti sejenak untuk membantu menggalang donasi bagi mereka.
Meski penuh tantangan, Rikal dan teman-temannya akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh konten yang direncanakan.
Dari proses tersebut, Rikal belajar satu hal penting: perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten juga dapat membawa dampak.
Setelah konten-kontennya dipublikasikan, Rikal mulai melihat perubahan kecil di sekitarnya. Beberapa orang mulai menyadari pentingnya subtitle dan bahasa isyarat dalam konten digital. Teman-teman Tuli juga merasa lebih dihargai karena kebutuhan mereka mulai diperhatikan.
Kini, Rikal semakin percaya diri menyuarakan isu aksesibilitas dan inklusivitas, baik secara online maupun dalam diskusi langsung dengan masyarakat.
Ke depan, Rikal berharap terus dapat berkontribusi sebagai Sobat Perdamaian dengan memperjuangkan ruang digital yang lebih inklusif bagi semua orang.
Bagi Rikal, perdamaian bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana: memastikan tidak ada orang yang tertinggal hanya karena dunia tidak dirancang untuk mereka.
Copyright © 2021 Indika Foundation. All rights reserved
ID