

Program PELITA Luwu lahir dari satu keyakinan sederhana, anak-anak tidak selalu membutuhkan ruang belajar yang sempurna untuk bisa merasakan pengalaman belajar yang bermakna. Di Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, enam sekolah dasar yang menjadi sasaran program memiliki kondisi yang beragam. Ada sekolah dengan lapangan luas, ada yang harus berbagi ruang terbatas, ada pula yang pada hari pelaksanaan harus menghadapi hujan deras. Namun, di balik segala keterbatasan itu, kami melihat hal yang sama di setiap sekolah, anak-anak yang ingin bermain, ingin bergerak, ingin dilibatkan, dan ingin merasakan bahwa belajar bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Indika Foundation bersama PT Masmindo Dwi Area menghadirkan PELITA Luwu (Pembelajaran Edukatif dan Eksploratif Anak Luwu). Program ini dirancang untuk menciptakan ruang belajar dan bermain yang aktif, eksploratif, dan penuh interaksi bagi anak-anak sekolah dasar. Melalui permainan sederhana, aktivitas kelompok, dan tantangan pos ke pos, anak-anak diajak belajar tentang kerja sama, keberanian mencoba, sportivitas, dan rasa percaya diri. Pengalaman belajar ini juga dilengkapi dengan dukungan sarana sederhana yang dapat menunjang semangat anak-anak dalam bersekolah dan beraktivitas, termasuk perlengkapan belajar serta alat olahraga yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan di sekolah.
Nama PELITA sendiri tidak hanya singkatan. Ia juga menjadi simbol harapan. Harapan bahwa anak-anak di Kecamatan Latimojong, dari enam sekolah dasar yang berbeda, dapat tumbuh seperti pelita, cahaya kecil yang menyala dari rumah mereka masing-masing, membawa semangat belajar, keberanian bermimpi, dan harapan untuk masa depan Indonesia. Di tengah keterbatasan akses, fasilitas, dan kondisi geografis, PELITA Luwu ingin mengingatkan bahwa harapan bisa tumbuh dari tempat yang paling sederhana sekalipun.
Pada awal perencanaan, desain kegiatan PELITA Luwu dibuat dengan format yang sama untuk semua sekolah. Anak-anak berkumpul bersama, dibagi dalam kelompok, lalu mengikuti aktivitas belajar dan bermain melalui konsep berjelajah dari satu pos ke pos lainnya. Setiap pos dirancang menggunakan perlengkapan olahraga yang diberikan, seperti bola, tali skipping, cone, dan alat permainan sederhana lainnya. Di akhir petualangan, anak-anak akan menerima “harta karun” berupa tas sekolah sebagai bentuk apresiasi karena telah menyelesaikan misi bersama.
Namun ketika program mulai diimplementasikan, kami menyadari bahwa setiap sekolah memiliki realitas yang berbeda. Prinsip utama yang kami pegang adalah semua anak, dari kelas 1 hingga kelas 6, harus ikut merasakan pengalaman belajar dan bermain ini. Karena itu, desain kegiatan tidak bisa kaku. Ia harus menyesuaikan kondisi sekolah, cuaca, jumlah anak, dan ruang yang tersedia.
Di SDN 476 Makalua, kegiatan berjalan hampir sesuai rencana. Lapangan sekolah yang luas memungkinkan anak-anak bergerak bebas dari satu pos ke pos lainnya. Mereka berlari, mengoper bola, menyelesaikan tantangan kelompok, dan mengikuti seluruh alur berjelajah dengan penuh semangat. Di sekolah ini, konsep awal PELITA Luwu berjalan baik.
Situasi berbeda terjadi di SDN 43 Rante Balla. Hujan turun, sementara area bermain tidak seluas yang dibayangkan. Tim Indika Foundation harus cepat menyesuaikan alur kegiatan. Sebagian aktivitas dilakukan di dalam ruangan, sementara aktivitas luar ruangan tetap dilakukan secara terbatas sambil menunggu hujan reda. Anak-anak berpindah dari aktivitas indoor ke outdoor dengan antusias. Meski rencana awal berubah, semangat mereka tidak berkurang. Kegiatan tetap berjalan, hanya dengan bentuk yang lebih adaptif.

Di SDN 662 Salu Bulo, kondisi lapangan dan cuaca membuat kegiatan hanya bisa dilakukan di satu ruangan. Aktivitas berjelajah yang semula dirancang berbasis pos kemudian disederhanakan menjadi kegiatan bercerita, bermain, dan berinteraksi bersama di dalam satu ruang kelas kecil. Suasananya menjadi lebih intim. Anak-anak duduk berdekatan, mendengarkan cerita, menjawab pertanyaan, dan tetap terlibat dalam suasana yang hangat. Di sini kami belajar bahwa “eksplorasi” tidak selalu berarti berpindah tempat, eksplorasi juga bisa terjadi ketika anak-anak diajak membayangkan, berbicara, dan menyampaikan pendapat.
Di SDN 41 Bone Posi, hujan deras kembali menjadi tantangan. Kegiatan kemudian dibagi menjadi dua kelompok besar, kelas rendah, yaitu kelas 1 dan 2, serta kelas tinggi dari kelas 3 hingga kelas 6. Pendekatan ini membuat aktivitas lebih sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Untuk kelas rendah, kegiatan dibuat lebih sederhana dan menyenangkan. Sementara untuk kelas tinggi, tantangan dibuat sedikit lebih kompleks agar mereka tetap merasa tertantang. Meskipun dilakukan dalam kondisi terbatas, semua anak tetap mendapat ruang untuk ikut serta.

Di SDN 230 Ulu Salu, hujan yang belum reda membuat kegiatan hanya dapat dilakukan di ruang guru. Ruangan yang terbatas tidak memungkinkan banyak pergerakan, sehingga aktivitas kembali disesuaikan menjadi permainan sederhana, percakapan, dan interaksi kelompok kecil. Anak-anak duduk berdekatan, tetapi tetap menunjukkan rasa ingin tahu dan kegembiraan. Ruang yang kecil justru menciptakan kedekatan antara tim Indika Foundation, tim Masmindo, guru, dan siswa.
Sementara di SDN 643 Gamaru, seluruh kegiatan dilaksanakan secara penuh di dalam ruangan. Sekolah ini merupakan sekolah di desa paling atas yang bahkan belum banyak dikunjungi oleh warga Luwu sendiri, sehingga tidak ada lapangan terbuka yang bisa digunakan secara optimal. Tetapi kegiatan tetap dibuat aktif dan menyenangkan. Anak-anak tetap diajak bergerak, menjawab, berdiskusi, dan mengikuti instruksi permainan dengan penuh semangat. Meski formatnya berbeda dari sekolah lain, tetapi esensinya tetap sama, semua anak hadir, semua anak dilibatkan, dan semua anak merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Dari enam sekolah tersebut, kami belajar bahwa substansi program jauh lebih penting daripada bentuk kegiatan yang seragam. Aktivitas di setiap sekolah memang berbeda. Ada yang berlari di lapangan, ada yang bermain di kelas, ada yang bercerita bersama, ada yang dibagi berdasarkan jenjang usia, dan ada pula yang menjalani seluruh kegiatan di dalam ruangan. Namun prinsipnya tetap sama, semua anak terlibat, semua anak merasa dihargai, dan semua anak mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan.
“Ini kegiatan berlajar dan bermain yang pertama kali aku ikutin, dan ternyata seru banget!” ungkap Frenki, salah satu siswa di SDN 230 Ulu Salu.
Hasilnya pun tetap seperti yang kami harapkan. Anak-anak tertawa, aktif menjawab, berani mencoba, dan menunjukkan antusiasme yang besar. Beberapa permainan sederhana justru memunculkan refleksi yang dalam. Anak-anak belajar bahwa menyelesaikan tantangan membutuhkan kerja sama, bahwa mendengarkan teman itu penting, bahwa tidak apa-apa mencoba meskipun belum berhasil, dan bahwa belajar bisa terasa menyenangkan ketika dilakukan bersama.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan sangat membantu cucu saya agar bisa bersekolah dengan baik” ucap Pak Rahman, salah satu Wali Murid di SDN 476 Makalua.
Tas dan perlengkapan olahraga yang diberikan memang menjadi bagian penting dari program. Namun PELITA Luwu ingin meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar barang. Program ini ingin menghadirkan memori bahwa sekolah bisa menjadi ruang yang menggembirakan, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar, dan bahwa anak-anak tetap bisa tumbuh dengan percaya diri ketika diberi kesempatan untuk bergerak, bermain, dan merasa dilibatkan.
Melalui PELITA Luwu, kami melihat bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari fasilitas yang lengkap. Kadang, ia dimulai dari sebuah permainan sederhana, dari tawa anak-anak di tengah hujan, dari ruang kelas yang sempit tetapi hangat, atau dari tas sekolah yang diterima setelah mereka menyelesaikan misi bersama. Dari enam sekolah di Kecamatan Latimojong, PELITA Luwu menjadi pengingat bahwa harapan bisa menyala dari mana saja, dari sekolah, dari rumah, dari anak-anak yang terus belajar, bermain, dan bermimpi untuk masa depan Indonesia. Pelita itu mulai menyala, nyalanya tidak besar, tetapi cukup untuk menerangi dan menghangatkan orang-orang di sekitarnya.

Copyright © 2021 Indika Foundation. All rights reserved
ID