
2R: Ruang Riung telah berhasil diselenggarakan di Yogyakarta dan Jakarta dari tanggal 5 Oktober hingga 1 November 2025, menghadirkan ruang perjumpaan hangat bagi 2.696 peserta dari berbagai latar belakang. Selama beberapa minggu, Ruang Riung menjadi tempat di mana seni, percakapan, dan pengalaman budaya hidup berdampingan, saling menguatkan, dan membuka jalan bagi dialog lintas iman yang lebih jujur.
Di tengah meningkatnya ketegangan sosial dan menurunnya indikator perdamaian di Indonesia (SETARA Institute, 2024), serta tantangan kebebasan sipil di beberapa negara Asia Tenggara, Ruang Riung memberikan ruang bagi orang untuk bertemu tanpa prasangka, dan khususnya memberi tempat bagi suara perempuan yang selama ini kurang terdengar.

Bekerja sama dengan Srikandi Lintas Iman (SRILI), Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Lembaga Kajian dan Penelitian Peradah, serta Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, pameran seni yang digelar di UNU Yogyakarta, UKDW, dan Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta menjadi jantung perjalanan Ruang Riung. Lebih dari dua ribu pengunjung menyaksikan karya-karya yang sebagian besar dibuat oleh seniman muda, perempuan, dan penyandang disabilitas. Lukisan, fotografi, dan instalasi tersebut menuturkan kisah tentang luka, harapan, keragaman, dan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengajak pengunjung berhenti sejenak dan memandang dunia dengan mata yang lebih lembut.

Ruang Riung tidak berhenti pada seni visual. Para peserta melakukan kunjungan ke Candi Borobudur, Pondok Pesantren Pabelan, dan Gereja Ayam Rhema, merasakan sejarah panjang hubungan Asia Tenggara dan belajar bagaimana harmoni lintas iman telah berakar sejak lama. Pengalaman ini menjadi pelajaran hidup tentang pentingnya memahami dan menghargai perbedaan sebagai bagian dari keseharian.

Lokakarya Teh di UNU dan UKDW juga menghadirkan pengalaman intim yang menunjukkan bahwa perdamaian bisa tumbuh dari kegiatan sederhana yang melibatkan kolaborasi, kesadaran diri, dan cerita bersama.

Momentum penting lainnya terjadi dalam seminar internasional di UNU Yogyakarta, yang terbagi dalam dua tema utama. Pada “When Faiths Meet: Muslim–Buddhist Stories from Indonesia & Thailand”, peserta mendengar kisah dialog lintas iman dari Venerable Julia Surya, S.Pd.B., M.A., M.Pd., PhD., Chair of Scientific Publication and Publishing Institution (LPIP) Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga; Venerable Napan Thawornbanjob, Chair of Institute of Buddhist Management for Happiness and Peace (IBHAP) Foundation; dan Dr. Suhadi, Wakil Rektor UNU Yogyakarta.
Di sisi lain, “Voices of Peace: Stories of Collaboration from Southeast Asia” menghadirkan Dr. Yuliyanti, Asisten Profesor di Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya dan CRCS UGM; Mohamed Imran Mohamed Taib, Pendiri Dialogue Centre Singapore; Asst. Prof. Dr. Nur Suriya Binti Mohd Nor, Asisten Profesor di Departemen Usul al-Din dan Perbandingan Agama dan Filsafat, International Islamic University Malaysia; dan Palin Teptat, Direktur Youth-Empowered Partnership (YEP) Centre, IBHAP Foundation. Dengan 100 peserta hadir, seminar ini menjadi ruang untuk merasakan, memahami, dan berbagi pengalaman nyata tentang kolaborasi lintas agama, sekaligus menegaskan peran perempuan dalam membangun perdamaian dan memperkuat jejaring komunitas inklusif.

Sesi-sesi talkshow yang diselenggarakan di UNU Yogyakarta, UKDW, serta Pura Aditya Jaya Rawamangun menghadirkan lebih dari seratus peserta dan membuka ruang aman untuk membicarakan tantangan serta peluang dalam merayakan perbedaan.
Di UNU Yogyakarta, talkshow mengangkat tema “Sastra sebagai Jembatan yang Menyulam Kemajemukan & Kedamaian” yang dipaparkan oleh Haidar Amaruddin, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNU Yogyakarta. Sesi ini dilanjutkan dengan “Dari Dialog ke Harmoni: Membangun Jembatan di Tengah Keberagaman” oleh Safira Rizky Mayla Aziz, Program Officer Indika Foundation.
Di UKDW, diskusi berfokus pada peran seni sebagai medium dialog melalui paparan “Kanvas jadi Ruang Dialog: Menggerakkan Rasa untuk Bumi dan Sesama” oleh Arahmaiani, seniman perempuan Indonesia, serta “Ruang Seni sebagai Media Perdamaian dan Masyarakat Inklusif” oleh Winta T. Satwikasanti, M.Sc., Ph.D., dosen Universitas Duta Wacana Yogyakarta.

Sementara itu, di Pura Aditya Jaya Rawamangun, talkshow menyoroti pentingnya komunikasi efektif dan dialog lintas keberagaman. Dr. Ni Gusti Ayu Ketut Kurniasari, Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta, membawakan materi “Seni Berbicara, Seni Mendengar: Keterampilan Komunikasi Efektif untuk Membangun Jembatan Antariman”. Acara ditutup dengan sesi “Dari Dialog ke Harmoni: Membangun Jembatan di Tengah Keberagaman” oleh Bernadeta Valentina, Senior Program Officer Indika Foundation.
Ruang Riung mengingatkan kita bahwa perdamaian tidak selalu dimulai dari forum besar atau pertemuan diplomatik. Kadang ia tumbuh dari percakapan sederhana di depan karya seni, dari langkah kaki yang menelusuri tempat suci, dari tangan yang bekerja sama membuat kerajinan, atau dari keberanian perempuan yang memilih untuk berbicara.
Di tengah tantangan Asia Tenggara saat ini, Ruang Riung mungkin hanyalah satu ruang kecil. Namun dari ruang kecil itulah, imajinasi baru tentang kebersamaan mulai diwujudkan: pelan, tulus, dan penuh harapan.
Copyright © 2021 Indika Foundation. All rights reserved
ID